Belajar Ikhlas

Ikhlas, sulit dilakukan dan butuh waktu. Memang Saya penganut prinsip, sesuatu yang sulit bukan berarti tidak dapat diselesaikan. Prinsip itulah yang membuat Saya selalu mampu menjaga semangat dan menjalani proses belajar. Kadang, di saat menjalani proses ada rasa pedih – perih & sedih, bahagia, it’s like an emotional rollercoaster. Ketika banyak argumen yang sudah terucap tidak bisa diterima oleh orang lain, di saat itulah Saya mulai belajar ikhlas. Jadi seperti judul lagu Bryan McKnight – Back at One. Catat ya, judulnya, bukan lagunya. Balik lagi ke langkah pertama dengan sudut pandang yang berbeda.

Apa yang membedakan? Sudut pandang… jelas jawabannya itulah, Jeng  :P Sudut pandang yang berbeda akan membuat langkah pertama yang baru, dan Saya gak boleh patah semangat untuk selalu membuat langkah pertama untuk sudut pandang yang berbeda. Didasari dengan rasa ikhlas, Saya yakin Tuhan sudah punya rencana yang lebih baik. Kita gak pernah tahu, just Heaven knows…

Untuk teman yang sedang mengalami hal yang sama, selalu nyalakan semangat dalam diri tanpa bantuan siapapun atau apapun. Ketika banyak argumen yang sudah terucap tidak bisa diterima oleh orang lain, setelah membuat hati ini jadi ikhlas, serahkan padaNya. Berdoa yang baik, supaya Dia juga memberikan yang baik untuk kita. Amen. Bukan berharap imbalan dari doa yang sudah terucap, tapi itulah janjiNya dan tak pernah diingkariNya.

Jadi, berdoa pun juga harus ikhlas, ya…

Cooking Class Kiddies : Pizza

cooking-class-kiddies-pizza-1Sewaktu Saya kasih tahu Dhenok, kalo dia Saya daftarkan cooking class membuat pizza, matanya langsung berbinar dan excited. Februari baru masuk tanggal 1, dia sudah ga sabar menanti. Jrengggg…akhirnya sampailah tanggal 10/2/2013, saatnya Cooking Class Kiddies (CCK) : Pizza di Legend Cafe Jogja. Ini adalah program CCK yang pertama. 15 kiddies ternyata cukuplah untuk membuat kakak kakak chef kerepotan membantu. Umur peserta variatif, minimal 4 tahun, peserta yang ikut kali ini. Geli & gemes melihat mereka ngoprek ngoprek adonan pizza, bahkan ada yang gak mau nyentuh adonan karena terasa dingin.  Ada juga saat ngolesi adonan pizza, yang sdh digiling, dengan saus tomat…dijilat jilat pisau olesnya sampai bersih ‘mengkilat’ kembali. Dhenok, anak Saya, cenderung tenang dan ga neka neka…seperti emaknya, hmmmm… Pulang bawa pizza kreasi sendiri, apron CCK dan pengalaman berbeda di hari ini. Continue reading

Sticker ‘How to’

sticker-how-to-1Handle pintu semacam ini sudah Saya kenal sejak di bangku SMP, mmmm sekitar tahun 89an. Saya excited dengan cara kerja handle pintu ini. So simple so fun, karena saat itu termasuk teknologi handle pintu yang ‘cerdas’. Saya gak mau sebut canggih karena belum terhubung dengan WiFi :D Gak perlu mengunci dari dalam dengan ribet, tapi biasanya handle pintu macam ini dipasang untuk pintu dalam rumah. Jadi bukan pintu depa, belakang atau samping, kecuali kalau niat mau berbagi harta dengan maling.

Di tahun 2013, waktu handle pintu sudah punya fitur yang lebih ‘cerdas’, handle pintu macam ini sering dipakai untuk pintu kamar mandi. Seperti yang Saya jumpai di pintu kamar mandi salah satu klinik onkologi di Jogja. Caranya gampang tinggal tekan tombol yang ada…terkunci deh, dan tinggal putar ke kanan untuk membuka pintu. Mudah bukan? Sayangnya, masih ada juga yang merasa kesusahan dengan cara kerja handle pintu macam ini. Kali ini yang membuat Saya excited, bukan handle pintunya, tapi sticker how to yang dipasang di handle pintu. Waktu itu Saya pikir nih orang iseng banget property rumah sakit ditempeli sticker. Ternyata setelah Saya baca tulisan di stickernya, sempat terpikir betapa pedulinya pihak klinik untuk para pasien dan keluarganya, yang masih awam dengan handle pintu macam ini. Langsung deh jadi ide postingan blog ini.

Two thumbs up.

sticker-how-to-2

sticker ‘how to’ yang tertempel di atas handle pintu

ini penampakan handle pintu plus sticker 'how to'

ini penampakan handle pintu plus sticker ‘how to’

Saya bukan Tipe ‘The Stepford Wives’

the-stepford-wives-4Pernah lihat film The Stepford Wives (2004)? Kebetulan Saya pernah melihat di salah satu channel TV Indonesia. Sudah 2 kali kalau gak salah. Intisari cerita nih film, tokoh protagonis Joanna Eberhart (Nicole Kidman), seorang fotografer berbakat baru saja tiba dari New York City bersama suami dan anaknya, mereka ingin memulai hidup baru. Seiring dengan waktu, Joanna merasa terganggu dengan sikap “zombie” para istri di Stepford (kota fiktif). Apalagi, saat ada temannya yang sangat independent woman, sesama pendatang baru di Stepford, berubah menjadi perempuan yang tidak punya karsa dan menjadi ibu rumah tangga seharian. Suaminya malah menghabiskan waktunya di acara pertemuan/kumpulan pria lokal, dan mengolok olok ketakutan istrinya. Sampai akhirnya Joanna yakin para istri di Stepford sudah diracuni atau dicuci otak sehingga menjadi sangat tunduk pada suaminya. Joanna membaca sejarah para wanita dan pria Stepford di perpustakaan dan menemukan, beberapa wanita dulunya aktivis feminis dan profesional yang sangat sukses, sementara pemimpin klub pria adalah seorang mantan insinyur Disney dan lainnya adalah seniman dan ilmuwan, mampu menciptakan robot manusia hidup. Meski Joanna sempat dibantu oleh Bobbie, ternyata Bobbie juga berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang penurut dan tidak punya karsa dalam aktivitas sebelumnya. Padahal bantuan Bobbie sangat dibutuhkan Joanna untuk penyelidikan, supaya bisa menulis kepada EPA untuk menanyakan tentang adanya kemungkinan keracunan lingkungan di Stepford. Endingnya, sih Joanna berusaha melarikan diri, tapi… maaf  Saya lupa terusannya :D Continue reading

Gosong

PicBlogPosting_Laundry

SumberGambar : willingcook.com

Pas lagi matahari terik,memang sangat menguntungkan bagi para Ibu Rumah Tangga (IRT), termasuk Saya. Berkah gitu loh :D Pagi sebelum berangkat kerja, keluarin semua jemuran, dan siang sewaktu pulang sudah kering. Saya dimudahkan dengan adanya mesin cuci. Gak perlu sampe kemripik sewaktu njemur, jemuran bisa kering dan bisa disetrika, kalo lagi rajin, atau langsung dilipat, kalo lagi males. Tapi… banyakan yang mana nih, Jeng? :D

Sewaktu Saya lagi setrika baju, Saya dengar obrolan Mama dan Akung (belio ibu bapak mertu Saya). Dan berhasil membuat Saya ngakak sewaktu dengar pertanyaan Akung saat melihat Mama ngurusin jemuran yang sudah kering.

Akung : “Sudah gosong belum, Ma?

Mama : “Sudah, waaaa CDnya Akung yang gosong.”

Ngakak deh Saya sambil setrika baju, dan Saya timpali aja dengan kalimat begini…

Saya : “Gosong, Kung. Niiii sampai bolong tuh CD. Yaeyalaaa, kalo gak bolong gimana bisa pakai CD?”

Giliran Mama yang ngakak. Guyonan sederhana yang bisa mendinginkan suasana yang panas, secara Saya lagi ngadhep setrikaan ON :D

“Terimakasih, Nok”

Kadang Saya masih bingung dengan pola pikir anak anak. Mereka seperti sponge. Apapun diserap, tapi hebatnya, jaman sekarang mereka pintar memodifikasi bahkan menjadikan komiditi “senjata” untuk “menampar” orangtua. Tentu orangtua merasa tertampar, karena tidak konsekuen tindakannya… jadi bahasa singkatnya dikritik sama anak. Apa yang Saya ungkapkan di sini termasuk modifikasi versi Dhenok, menurut Saya lho…, karena Saya tidak merasa tertampar banyak hehehe, banyak terbantunya. Continue reading