You’ve Got Mail

1555521_709054589114603_2137374826_n

Saat lihat pic ini ada di timeline page ini, Saya merasa ‘wow’ … idenya oke. Meski sekarang Dhenok sudah kelas 2 SD, belum terlambat lah untuk melakukan hal yang sama. Hapuslah kata terlambat dalam pikiran kita, jika kita melakukan hal yang baik. Banyak hal yang bisa kita ketikkan dan kirim via e-mail untuk anak kita tercinta, tentu hal hal yang baik, yang bisa membangun karakter positif. Dan semoga saja di saat membacanya dia akan tersentuh dan bisa memperbaiki sikap sikap yang kurang baik juga mempertahankan sikap sikap positif yang sudah dia lakukan. Amin.

“Terimakasih, Nok”

Kadang Saya masih bingung dengan pola pikir anak anak. Mereka seperti sponge. Apapun diserap, tapi hebatnya, jaman sekarang mereka pintar memodifikasi bahkan menjadikan komiditi “senjata” untuk “menampar” orangtua. Tentu orangtua merasa tertampar, karena tidak konsekuen tindakannya… jadi bahasa singkatnya dikritik sama anak. Apa yang Saya ungkapkan di sini termasuk modifikasi versi Dhenok, menurut Saya lho…, karena Saya tidak merasa tertampar banyak hehehe, banyak terbantunya. Continue reading

“Maaf Bunda, aku gak bisa bantuin”

Salah satu hal, melakukan sesuatu yang butuh waktu luang, adalah merapikan mainan, atau apapun property yang ditinggalkan si kecil untuk bermain… mmm at least ini menurut Saya. Sekarang Dhenok  suka bereksperimen dengan berbagai macam alat mewarnai dan mengasah ketrampilan menggunting, menggambar abstrak dengan spidol, juga stapling – meng-clip kertas dengan stapler. Senang melihat Dhenok bisa explore herself much, dan Saya sepet saat melihat Dhenok tidak merapikan mainannya setelah exploration, apalagi setelah gunting menggunting… 1st hadeeee. Continue reading

Pancakes

Jujur, baru 2x buat pancake selama hidup. Kalo cuma browsing dan download recipe juga video how-to-nya sih seriiiiing. Dari hasil browsing, ingredients dan waktu luang yang ada, akhirnya recipe yang Saya pake punya Kraftfoods. Simple. Pertama kali buat, bantat hasilnya, gak bisa ngembang. Dari analisa sih, ngukur BP-nya kurang pas, meski rasanya dah enak. Tapi tetep dah ilang feeling buat ambil gambarnya.

Selasa pagi disempatin buat, sekalian buat bekal sekolah Dhenok. Semua bahan diukur dengan seksama dan dengan hati. Tepung terigu, gula, garam dan BP – yang ini diukur dengan penuh perasaan 😀 Telur dikocok asal lepas, campur dan aduk dengan susu dan minyak goreng, sampai rata. Susunya Saya pake susu Nutrilon 4-nya Dhenok hehehe, kebetulan Dhenok dah gak consume itu lagi, jadi Saya berdayakan. Meski susunya rasa vanilla, kok gak dapet ya rasanya 😀 Ready semuanya, wet & dry ingredients, dicampur pake whisk sampe halus tapi jangan overmix. Panasin frying pan atau griddle, olesi dengan sedikit margarin. Saya ambil 1/3 cup adonan, tunggu sampai ada letupan buih  di sisi atas sambil lihat sisi bawahnya dah seberapa coklat  – tergantung selera. Lalu balik, naaa step ini niiii yang Saya suka. Dan teksturnya yang sekarang bisa fluffy, yipiiieeee.

Dari bahan segitu dan diukur dengan 1/3 cups, jadi 6 pancakes, 2 polos dan 4 bertabur choco chips. Setelah nyiapin bekal buat Dhenok, sisanya dibawa ke kantor, tentu dengan membawa chocolate topping jam dan vanilla wafer crumbs. Ice cream biar beli dewe dewe. Kalo ada waktu lagi, pengin buat yang pake buttermilk, trus kocokan putih telur dan vanilla extract, hmmm pasti lebih fluffy dan wangi. Dan, ini ada sedikit foto pancake yang bisa dinikmati.

Bunda Hebaaattt

monopoli-2Beginilah kalau Si Dhenok sudah mulai dasaran di atas kasur tidurnya. Berantakan, dan geli juga waktu Dhenok bermain dengan uang uang mainan monopoli. Pasti sudah banyak yang tahu kan, gimana mainan monopoli itu? Ada kartu DANA UMUM, KESEMPATAN, HIPOTIK dan UANG BANK. Tentunya masing masing item, lembarannya lebih dari sepuluh lembar. Bisa dibayangkan toh, kalo semua lembaran itu diabul abul (diberantakin). Salah satu kebiasaan Saya, sering mengingatkan Dhenok untuk membereskan semua mainannya sebelum bobo. Dan memujinya setelah bisa membereskan semuanya, dengan kalimat, “Waaa hebat, Dhenok bisa beresin mainannya…..”

Satu malam, Dhenok ngabul abul mainan monopoli ini di atas kasur tidurnya, dan ditinggal begitu saja ke kamar akung uti untuk nonton TV sampe tertidur pulas. Akhirnya, bisa ditebak, siapa yang membereskan mainannya. Yup, Saya, bundanya. Dan esok paginya, setelah cukup ‘ampere’ dari bangun tidur, lagi lagi mainan monopoli diabul abul. Saya yang barusan masuk ke ruangan, cuma bisa mengingatkan dan menegur, “Dhenok kok mainan itu lagi. Setelah selesai, dibereskan.” Pernyataan Saya dibalas dengan pertanyaan, ” Semalam xixixiyang beresin mainanku siapa?” Saya jawab, “Ya Bunda, Dhenok kan dah keburu bobo sebelum beresin mainan.” Dan Saya dapat komplimen dari Dhenok, “Waaaa Bunda hebaaaattt.” Tentu saja dengan mengacungkan dua jempolnya, kanan dan kiri, juga dengan senyum jahilnya. “Asemik”, jawab Saya dalam hati. Dududududu, Si Ayah yang Saya ceritain ngakak habis.

Sakit juga kaann?

MG_0037Ini adalah foto Dhenok waktu sakit bapil-batuk pilek- setahun yang lalu. Masa penyembuhan sih, tapi wajahnya masih terlihat sayu. Bapil termasuk sering menyerang Dhenok. Sedih juga sih, mungkin kurang suplemen kekebalan tubuh, padahal dulu Dhenok  waktu bayi ng-ASI . Tahun ini sudah dua sampai tiga kali dia kena bapil. Bapil yang terakhir ini, tambah susah makan. Katanyanya tenggorokannya sakit kalo buat nelen. Ada cerita lucu berhubungan sama tenggorokan sakit ini. Di rumah Mbah Ituk , yang momong Dhenok, dia disuruh makan tapi tetep aja jawabnya “gak mau”. Sudah ditawari lauk macem macem, juga gak mau maem. Maunya cuma mimik susu. Dan, Si Dhenok dah empet kali ya, sudah dijawab gak mau bolak balik kok tetep aja disuruh makan. Akhirnya kalimat yang keluar dari mulut Dhenok adalah, “Mbah Ituk nih gimana sih. Kalo Mbah Ituk tenggorokannya sakit, buat nelen sakit juga kan?” Juedhangggg  Si Mbah Ituk-nya cuma tersenyum kecut… Saya yang diceritain esok paginya cuma nyengir dan berkata dalam hati, “Huaaa…the real great imitator.”

pic is taken by madho

AyahNda tetap Sayang Dhenok

Pagi ini berangkat kerja dengan hati agak sedih. Dhenok tantrum, nangis sampe jejeritan. Duuuhhhhh. ” 😥 Bunda gak usah kerja, ayo di depan tipi aja…”, begitu kalimat yang keluar dari mulut mungilnya sambil meraung raung. Kalo dimasukkin hati memang, honestly, beraaaaatttt sekali untuk meninggalkan dia. Ini sudah resiko ibu bekerja. Harus ada hati yang keras, dan tetap lembut, untuk menghadapi anak yang tantrum. hiks